Senin, Januari 28, 2008

Memperoleh Air Bersih Di Sinabang Sesulit Di Gurun Sahara


Cetak E-mail
Monday, 28 January 2008 03:00 WIB
WASPADA Online

Dari 82.000 penghuni pulau Simeulue saat ini, diperkirakan sepertiga berdomisili di kota Sinabang—Ibukota Kabupaten Simeulue, penduduk kota yang terdiri dari multi etnis, umumnya menggunakan bahasa jame sebagai bahasa sehari-hari.

Warga Simeulue, khususnya di kota Sinabang yang heterogen, meski diklaim banyak pihak mayoritas hidup di bawah garis prasejahtera. Namun kemiskinan tidak membuat warga kelimpungan, lalu menghalalkan semua cara untuk memenuhi kebutuhah hidup.

"Ada memang yang menempuh cara illegal untuk menjadi kaya," kata sebuah sumber di sana. Tapi menurut dia, intensitasnya kecil bila dibanding dengan di luar sana. Ditengarai hanya oknum yang memiliki jabatan di pemerintahan, sedangkan oknum masyarakat murni—petani, nelayan, pedagang nyaris tidak ada.

Lah, bicara tentang warga di perkotaan Sinabang, seorang pegawai Pengadilan Negeri Sinabang, Sabaraduin alias Saudin, kepada Waspada kemarin menuturkan yang paling menarik untuk dipikirkan masalah sulitnya memperoleh air bersih bagi warga Sinabang. Ini adalah persoalan krusial yang sudah berlangsung lama.

Benar memang. Media ini sendiri sudah sejak beberapa tahun lalu intens menyuarakan persoalan air bersih bagi kebutuhan warga perkotaan itu. Betapa tidak, tatkala musim kemarau tiba siapapun pasti merasa prihatin bila melihat ibu rumah tangga, khususnya yang hidup pas-pasan. Terkadang dengan menggendong bayi sembari mengikat pinggang kuat harus mengangkat air bertimba, berjerigen dari jarak kiloan meter.

Bahkan tak jarang kalau sudah hujan tidak turun lebih seminggu, sebagian bocah-bocah khusus yang pria meski keselamatan jiwa terancam tenggelam atau disantap ikan-ikan ganas, mereka tetap terjun dan mandi laut untuk memperoleh air bersih.

"Kesulitan utama kami warga Sinabang, yakni soal air bersih. Terkadang kalau saat kemarau datang untuk mendapat air bersih sesulit orang yang berada digurun Sahara," kata Jari, ibu rumah tangga separuh baya yang berdomisili di Dusun Sedap Malam, Desa Suka Maju Sinabang, suatu ketika.

Tetangganya War, 50, mengutarakan hal serupa. Menurutnya, kebutuhan air bersih selama ini, dia dan umumnya warga kota Sinabang, bergantung pada tadahan. Air hujan lalu ditampung dalam bak. Namun bila tiba musim kemarau, keadaan ini membuat mereka paling menderita.

Apalagi katanya, bagi orang-orang yang ekonomi lemah. Maklum, kalau membeli air dari motor tanki yang sering keliling, harganya selangit.

Menghadapi persoalan ini berbagai kalangan di Simeulue, mengharapkan pemerintahaan Darmili yang sejak awal memerintah telah mencanangkan pengadaan sarana dan prasarana air bersih sebagai salah satu program utama dalam visi dan misi mereka sebagaimana yang disampaikan selama dua kali berturut menjelang Pilkada silam agar segera mewujudkannya.

Warga memang menyadari dalam masa pemerintahaan sebelumnya, Darmili dan Almarhum Ibnu Aban GT Ulma telah menampakkan komitmen mengupayakan penyegeraan beragam sarana dan prasarana kebutuhan masyarakat. Termasuk fasilitas air bersih.

Tapi apa lacur sebut sumber, ditengarai rendahnya pengawasan membuat program sarana air bersih di Simeulue tak kunjung rampung hingga kini. "Jangankan mendapat air bersih yang saban waktu mengalir dari bendungan dan pipa yang ditanam di Simeulue dengan uang rakyat itu, mengalir saja juga belum," kata Iwan Setiawan, seorang pemuda di Sinabang, kemarin.

Bahkan dia menyebutkan, pipa yang ditanam beberapa waktu lalu, sebagian hingga kini masih berserakan di pinggiran jalan Kota Sinabang. Selain membuat air tak mengalir juga telah membuat pemandangan semak. Galian-galian yang belum ditutup juga dapat mengancam keselamatan pengguna jalan umum.

Benar, kondisi janggal ini pantauan Waspada dapat dipastikan hingga hari ini (baca: Senin) masih bisa dilihat dengan mata telanjang oleh siapa saja yang melintas di jalan utama dalam kota Sinabang, khususnya di kawasan Desa Suka Karya, juga beberapa gang di Desa Suka Maju.

Kepala Kantor Perusahaan Air Minum (PAM) Sinabang, yang sebentar lagi lembaga ini berubah nama menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Simeulue, Ir. H. Rasmal Khaar, kemarin menyatakan maklum dengan keluhan warga. Atas nama Pemerintah Simeulue, dia menyatakan terus berupaya untuk mempercepat penyiapan sarana air bersih.

Katanya, kini semua sarana untuk itu dalam tahap finishing. Ditargetkan dalama tiga bulan ke depan sudah selesai. Menurutnya, untuk masalah waduk, bendungan air PDAM di hulu sungai Kuala Makmur, masuk finishing diikerjakan oleh sebuah NGO asing—Sabsas. Sedangkan penanaman pipa hingga ke kota ditangani BRR.

Untuk memaksimalkan hasil kerja kedua lembaga ini, Rasmal Khaar selaku anak pulau sekaligus sebagai Kepala Kantor PAM Sinabang mengaku terus memberikan pengawasan dan dia juga mengimbau kepada para kontraktor yang menangani penggalian dan penanaman pipa PDAM untuk segera menyelesaikan tanggungjawab mereka selaku pelaksana proyek.
Rahmad (ags)

Kamis, November 22, 2007

Cadir PDAM Langsa Teridentifikasi Berijazah Palsu


Cetak E-mail
Thursday, 22 November 2007 03:00 WIB
Langsa, WASPADA Online

Secara mengejutkan seorang calon Direktur PDAM Tirta Keumuning Langsa, AL diketahui berijazah palsu.
Menariknya, yang bersangkutan telah melewati fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan), dan mendapat rekomendasi legislatif kepada Walikota Langsa agar menetapkannya menjadi pimpinan di BUMD itu.

Berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh Waspada, Rabu (21/11), menunjukkan AL sebagai calon Direktur PDAM Tirta Keumuning Langsa itu teridentifikasi berijazah palsu. Bukti konkrit ini semakin kuat menyusul dikeluarkannya surat keterangan dan klarifikasi dari Kordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah I NAD-Sumut.

Surat keterangan dan klarifikasi yang ditandatangani Sekretaris Pelaksana Suryatmono atas nama Koordinator Kopertis Wilayah NAD-Sumut bernomor 105/0 01.3.1/AK/2007, bertanggal 19 November 2007 ini dengan tegas menyebutkan ijazah atas nama AL palsu.

Dalam surat klarifikasi itu terungkap, AL kelahiran 26 Juli 1960 di Pematang Siantar dengan NIRM 861034230007 Strata-1 Fakultas Teknik Jurusan Terknik Mesin status disamakan beserta nomor seri ijazah 1461/I.3/UMA93 dan NIRL 9322108531110 tgl.25 Oktober 1993 serta daftar nilai No. 576/I-0/12993 tgl.13 November 1993.

"Sesuai data di atas setelah diperiksa dan diteliti pada EPS-BED dan data/arsip Kopertis Wilayah I Medan mahasiswa dimaksud tidak terdaftar." Bukti ijazah palsu sebagaimana telah digunakan AL pada saat mengikuti fit and proper test yang dilakukan DPRK Langsa beberapa waktu lalu, untuk menjadi Direktur PDAM Tirta Keumuning itu juga dapat dibuktikan dengan surat klarifikasi legalitas ijazah sarjana yang dikeluarkan Universitas Medan Area (UMA).

Surat klarifikasi legalitas ijazah sarjana ini bernomor 1192/R.03/XI/2007 tertanggal 21 November 2007, dan langsung ditandatangani Rektor UMA, Prof. Dr. H. A. Ya’kub Matondang, MA dengan tegas menyebutkan, AL tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa dan tidak tercatat sebagai alumni Universitas Medan Area.

Berdasarkan hasil fit and proper test yang dilakukan Komisi A DPRK Langsa, AL satu dari enam calon yang mengikutinya memperoleh angka teratas. Namun angka tinggi AL ini disangsikan sejumlah kalangan, kendati kemudian legislatif merekom secara tunggal kepada Walikota Langsa Zulkifli Zainon untuk menetapkan AL sebagai Direktur PDAM di sana.

Keenam calon pimpinan BUMD tersebut, masing-masing Ir. Supriadi saat ini menjabat sebagai Pj Direktur PDAM Tirta Keumuning Langsa, Ir. Andi Leo, Buyung Muklis, SH, Zainal Abidin, SE dan Idris, SE serta Hafni, ST. (b23) (ags)

Minggu, Agustus 05, 2007

AIR BERSIH YANG SEHAT DENGAN CHLORINE DIFFUSER


By admin (Kesehatan Online)
Minggu, 05-Agustus-2007, 20:50:46 206 clicks Send this story to a friend Printable Version

PENDAHULUAN
Air adalah salah satu kebutuhan pokok manusia, bahkan hampir 70% tubuh manusia mengandung air. Dalam memenuhi kebutuhan hidup, air dipergunakan untuk keperluan makan, minum dan pemenuhan kebutuhan lain.
Salah satu upaya meningkatkan kualitas air secara mikrobiologi adalah dengan desinfeksi. Adapun desinfeksi ini dimaksudkan untuk membunuh bakteri pathogen (penyebab penyakit) yang penyebarannya melalui air dengan cara :
1.Kimia
Dengan penambahan bahan kimia, seperti : kaporit, Ozone.
2.Fisik
Yaitu dengan pemanasan dan penggunaan sinar ultr violet.
Bahan kimia yang paling banyak digunakan untuk mendesinfeksi air adalah CHLOR dan senyawa chlor yang disebut CHLORINASI.
Chlorinasi di Indonesia biasanya menggunakan KAPORIT (Ca(OCl)2), karena murah murah, mudah didapat dan mudah penanganannya.
Untuk memudahkan dalam membubuhkan kaporit ke dalam air maka dibuatlah suatu alat pembubuh kaporit yang disebut CHLORINE DIFFUSER.
ASPEK-ASPEK DESINFEKSI
Kecepatan dan keampuhan disinfektan tergantung dari beberapa factor, yaitu :
1.Jenis
Jenis mikroorganisme mempunyai kepekaan tertentu terhadap disinfektan.
2.Jumlah
Jumlah mikroorganisme yang besar terutama yang pathogen akan memerlukan dosis disinfektan yang besar pula.
3.Umur
Umur mikroorganisme akan berpengaruh pula terhadap efektifitas disinfektan.
4.Penyebaran
Mikroorganisme yang menyebar akan mudah ditembus oleh disinfektan
5.Waktu kontak
Untuk dapat bergfungsi dengan optimal, disinfektan harus mempunyai waktu kontak yang cukup dengan air yang diproses.

PRINSIP KERJA CHLORINE DIFFUSER
1.Pembubuhan kaporit secara perlahan pada sarana air bersih.
2.Terjadinya diffuse (pencampuran) kaporit dalam tabung dengan air secara perlahan.
3.Pengaturan kadar chlor yang keluar sesuai kebutuhan.
CARA PEMBUATAN
1.Bahan-bahan
Pipa PVC 2 , panjang 50 cm
Pipa PVC 1 , panjang 35 cm
Dop PVC 2dan1 masing-masing 2 buah
Pasir kasar yang bersih dan kering 6 gelas
Paku reng bamboo / jeruji sepeda
Tali plastic
Kaporit gelas

2.Cara Perakitan
Lubangi pipa PVC yang besar dan yang kecil masing-masing sebanyak 5 buah lubang dengan menggunakan paku reng bamboo atau jeruji sepeda. Pemberian lubang ini merata dari atas ke bawah pada seluruh sisi pipa. Lubangi pula semua dop PVC masing-masing 1 buah lubang.
Siapkan tali plastic panjang 30 cm, buatlah lubang pada jarak 5 cm pada kedua sisi pipa yang besar. Selanjutnya masukkan ujung tali plastic untuk dibuat simpul mati dan tutup pula dengan dop.
Buatlah campuran 1 gel;as pasir dan gelas kaporit. Masukkan campuran ini pada pipa yang kecil dan tutup dengan dop pada kedua sisinya.
Isi pipa besar dengan pasir kasar sebanyak 1 gelas
Masukkan pipa kecil yang berisi campuran pasir dan kaporit ke dalam pipa besar.
Isilah kembali pipa yang besar dengan pasir hingga penuh sambil diketok-ketok agar terjadi pemampatan.
Tutuplah ujung pipa yang lain dengan dop PVC dan lat siap untuk digunakan

Kamis, November 23, 2006

Distribusi Air Bersih Segera Dilakukan

Serambi Indonesia
Kamis, 23 November 2006



JEURAM - Untuk menyahuti keinginan masyarakat dalam hal penyediaan air bersih di Kabupaten Nagan Raya, instansi terkait menyatakan komitmennya untuk segera melakukan operasional pendistribusian air bersih kepada para pelanggan. Dengan demikian diharapkan dapat terus meningkatkan pelayanan kepada warga setempat.


Pj Bupati Nagan Raya Zainal Sabri kepada Serambi, Selasa (21/11) menjelaskan, distribusi air bersih merupakan harapan dan dambaan seluruh masyarakat di kabupaten tersebut. Karena itulah, agar seluruh proses berlangsung lancar, kepada seluruh komponen masyarakat diharapkan partisipasi aktifnya sehingga dalam waktu tak terlalu lama lagi seluruh masyarakat Nagan Raya dapat menikmati penyaluran air bersih.

Didampingi Kadis Pekerjaan Umum, Muchtarruddin dan Kepala Bappeda Tajuddin Merlian, Pj Bupati mengungkapkan guna mendukung kegiatan pendistribusian air bersih bagi masyarakat, beberapa hari lalu Dinas Pekerjaan Umum Nagan Raya telah menggelar sosialisasi pemakaian air minum di Aula Kantor Camat Seunagan. Hadir dalam forum tersebut unsur pejabat kecamatan, para kepala IKK, dan kepala desa di Nagan Raya.

Muchtaruddin menambahkan, dalam sosialisasi tersebut turut dibahas sejumlah hal. Di antaranya pendataan semua pelanggan yang sudah terpasang water meter di masing-masing IKK, segera melaksanakan pencatatan dan perbaikan water meter yang ada, segera melaksanakan pemasangan baru sesuai dengan rencana anggaran biaya instalasi perpipaan.

Setelah operasional pendistribusian air kepada masyarakat berjalan lancar, akan dilaksanakan juga penyuluhan di masing-masing IKK. Makanya, kita berharap proses pendistribusian air bersih kepada warga ini dapat berlangsung lancar, katanya.

Hingga sekarang, jelasnya, di Kabupaten Nagan Raya telah memiliki tiga IKK, masing-masing di Kecamatan Seunagan (mampu menghasilkan air bersih 15 liter/detik), Kecamatan Kuala (10 liter/detik), dan Darul Makmur (5 liter/detik).

Sedangkan suplai air bersih kepada masyarakat di Kecamatan Seunagan Timur dan Beutong diharapkan dapat diupayakan pada tahun-tahun mendatang. Mengingat potensi air yang dimiliki Nagan Raya sangat banyak dan hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal seperti Krueng Isep (Kecamatan Beutong) dan sungai-sungai di kecamatan-kecamatan lainnya, pihak
Dinas Pekerjaan Umum setempat telah mengirimkan surat kepada Departemen Pekerjaan Umum Pusat agar di masa mendatang potensi yang ada itu bisa dioptimalkan lagi.

Bahkan, menurut Muchtarrudin, pihak Departemen Pekerjaan Umum telah berkoordinasi dan merekomendasikan kepada pihak BRR NAD-Nias supaya segera diprogramkan pengembangan instalasi air bersih di kawasan Krueng Isep, Kecamatan Beutong. Keberadaan Krueng Isep itu sendiri sangat potensial dan memiliki keistimewaan yang luar biasa. Dikatakannya, meskipun hujan deras, air di wilayah itu tetap bersih dan tidak keruh. Sebab itulah, Krueng Isep sangat layak dikembangkan sebagai salah satu sumber air bersih yang bisa didistribusi kepada masyarakat setempat.

Jika nantinya terealisasi, instalasi air Krueng Isep ini mampu menghasilkan air bersih 20 liter/detik. Semoga harapan masyarakat Nagan Raya ini kelak menjadi kenyataan, ungkapnya.(hil)

Selasa, November 29, 2005

Mapam X Perpamsi di Makassar


Berpose sejenak usai acara Mapam ke-X di ballroom Hotel Sahid Makassar, Sulawesi Selatan.
Depan dari kiri ke kanan :
Ir. Fuad S (PDAM Langsa), Sofyan (PDAM Aceh Tamiang), Teman dari Sulsel, Ir.Sukri (PDAM Takengon).
Belakang :
Harsoyo (PDAM Singkil), Arizal SE (PDAM Gayo Lues), Azhari Ali (PDAM L'mawe),
Bahrizal (PDAM Meulaboh), Ir. Rasmal (PDAM Simeulue), Sakdah, ST (PDAM Tapak Tuan) dan Husaini, ST (PDAM Sabang).



Para tukang leideng Aceh diruang balairung hotel Sahid Makassar pada acara Mapam ke-X Perpamsi di Makassar (medio November 2005)
Dari kiri ke kanan :
Maimun MD, Sakdah ST, Ir. Fuad, Ir. Rasmal, Sukri SE, Ahtur Ritonga, Harsoyo dan Sofyan.

Sabtu, Mei 21, 2005

H2O Partners dari Belanda turut serta membangun kembali Aceh dan Nias


PDF Print
Bencana tsunami melanda Aceh pada bulan Desember 2004, selain itu pada bulan Maret 2005, Nias diguncang gempa bumi berkekuatan tinggi, 8,7 skala Richter.
Sektor Air Belanda sangat peduli terhadap dampak kejadian ini. Inisiatif timbul dan perusahaan-perusahaan Air Bersih Belanda dan Badan Pengelola Air Bersih Belanda untuk membantu korban-korban dan daerah-daerah yang terkena bencana alam tersebut dalam penyediaan air bersih.

Perusahaan-perusahaan Air Bersih Belanda dan Badan Pengelola Air Bersih Belanda diwakili oleh organisasi cabangnya Vewin dan UvW memberikan bantuan kepada daerah-daerah yang terkena dampak tsunami dan gempa bumi. Inisiatif ini didukung oleh dua perusahaan Air Bersih Belgia: KIWA dan Aqua for All, begitu pula Aquanet, Water Fund Indonesia, Protos dan beberapa propinsi di Belanda serta Pemerintah Kota begitu pula berbagai donor komersil.

H2O Partners Sumatera

Untuk tujuan ini, Yayasan H2O Partners Sumatera didirikan pada bulan April 2005. Dengan dana yang terkumpul dan Sektor Air Belanda dan berbagai donor nasional maupun asing, Yayasan tersebut melaksanakan Program Bantuan Sektor Air Belanda, DWSAP (Dutch Water Sector Assistance Program) untuk Sumatera Wilayah Utara dan Barat.
Tujuan utama Bantuan Program Yayasan tersebut adalah untuk membantu PDAM, Pemerintah Kabupaten, membangun kembali infrastruktur agar PDAM dapat beroperasi.

SAB-SAS

Yayasan H2O Partners beroperasi di Indonesia sejak bulan Mei 2005 dengan singkatan SAB-SAS (Sektor Air Belanda Mendukung Sektor Air Sumatera Wilayah Utara) H2O Partners mengelola kontribusi dari perusahaan-perusahaan Air Bersih di Negeri Belanda, Water Board Belanda, bantuan dari beberapa Propinsi dan Pemerintah Kota Belanda dan Belgia, institusi lainnya serta berbagai perusahaan Konsultansi Pemerintah Belanda memberikan konstribusinya sebesar Euro 5 juta, sehingga dana bantuan yang diperoleh mencapai Euro 11 Juta.

Program ini diformulasikan setelah dilakukan pembicaraan-pembicaraan luas dengan masyarakat pengungsi dan PDAM yang terkena dampak tsunami serta Pemerintah Kabupaten. Disamping itu, diskusi diadakan di Propinsi Aceh dengan Bappeda TK- I dan wakil Gubernur, sedangkan di Propinsi Sumatera Utara diskusi diadakan dengan perusahaan air bersih propinsi yakni TIRTANADI.

Pada tingkat Pusat, program tersebut dibicarakan dengan federasi air minum Indonesia (PERPAMSI), dengan Bappenas dan dengan Kementrian PU. Pada waktu yang sama masukan berharga diterima dari Kedutaan Belanda di Jakarta, serta dari kedutaan Indonesia di Negeri Belanda, begitu pula dari Kementrian Kerjasama Pembangunan Belanda serta Kerjasana Sektor Air.
Sebagai hasil dari konsultasi-konsultasi tersebut Program Bantuan Sektor Air Belanda dimasukkan dalam Blueprint aksi oleh Pemerintah Indonesia.

Bantuan dalam masa tahapan darurat

  • Dalam masa tahapan darurat, SAB-SAS telah membantu beberapa PDAM yang terkena dampak tsunami / gempa bumi dengan penyediaan mobil tangki air dan truk pick up, begitu pula melaksanakan beberapa pekerjaan kecil PDAM di Bireun, Sigli dan Nias.
  • SAB-SAS membantu sebagian gaji karyawan PDAM selama 6 bulan.
  • 20 buah Perfector-E (mobil treatment plant ) yang dikirim dari Negeri Belanda dibagikan untuk Aceh Utara, Aceh Besar, Nias Utara& Nias Selatan dan Simeulue.
Sasaran Program

  • Meningkatkan pelayanan kebutuhan air bersih untuk 4 wilayah
  • Meningkatkan fasilitas sanitasi di 4 wilayah
  • Meningkatkan kapasitas pengoperasian air bersih dan fasilitas sanitasi.

Secara kuantitatif sasaran :

  • Pelayanan Air Bersih ( coverage > 60%)
  • Pelayanan sanitasi ( coverage 40 %)
  • PDAM dapat menghasilkan pemasukan sehingga O & M terjamin dan pengoperasian berjalan tanpa kerugian.

Kegiatan-kegiatan pelaksanaan pekerjaan


Kabupaten Aceh Utara:

  • Master plan untuk PDAM dikontrakkan kepada konsultan Wahana, bulan Maret akan selesai.
  • DED untuk WTP Sawang telah dikontrakkan.
  • DED untuk WTP Lhoksukon telah dikontrakkan
  • Fasilitas sanitasi sedang di bangun.
  • Bangunan untuk training hampir selesai.

Kabupaten Aceh Besar:

  • DED Lhoknga dikontrakkan
  • 2 Perfector E dipinjamkan pada ESP/USAID. Training diberikan PDAM.
  • Identifikasi jaringan pipa PDAM di Selimum dan Jantho.

Kabupaten Aceh Barat:

  • Rehabilitasi WTP Rantau Panjang hampir selesai
  • Perbaikan WTP Lapang sedang dilakukan dan akan selesai bulan Maret.
  • DED untuk WTP baru Rantau Panjang dan jaringan pipa dikontrakkan
  • Masterplan / surveying drainage dikontrakkan.

Kabupaten Simelue (Sinabang)

  • Pekerjaan pembangunan kantor baru PDAM telah dimulai.
  • Usulan disampaikan kepada PDAM untuk membuat perbaikan-perbaikan darurat sistem perpipaan air bersih Sinabang.

Kabupaten Nias Selatan / Teluk Dalam

  • Pembangunan gedung kantor PDAM hampir selesai.
  • Kontrak DED untuk WTP baru dan jaringan perpipaan telah dibuat.
  • Pekerjaan jaringan pipa sanitasi di Hilisimaetano di mulai.
  • Pekerjaan persiapan Master-Plan drainase telah dibuat.

Kabupaten Nias/Gunung Sitoli

  • Kontrak DED untuk WTP Binaka dan rehabilitasi jaringan perpipaan di buat.
  • Survey untuk alternatif sumber air dilanjutkan.
  • Persiapan pekerjaan Masterplan Drainase sedang berjalan.

Penguatan Institusi / Training

  • Yang akan memberikan training telah dihubungi
  • Sasaran pelajaran ditentukan
  • Usulan training praktis di formulasikan.

Sabtu, Mei 14, 2005

Mesin Daur Ulang Air Bersih Terbengkalai

Serambi Indonesia
Sabtu, 14 Mei 2005



SIGLI - Satu unit mesin pompa daur ulang air bersih bantuan Jepang untuk pengungsi, dan warga Kota Sigli, Kabupaten Pidie, terkesan terbengkalai. Kini, bantuan yang diletakkan di depan pendopo tersebut, sudah lama tak berfungsi lagi sehingga warga sangat kecewa, terlebih suplai air dari PDAM Tirta Mon Krueng Baro kurang lancar.

Seperti diketahui, pada awal bencana tsunami melanda Pidie, Jepang memberi bantuan satu unit mesin daur ulang air bersih. Alat tersebut berfungsi mendaur ulang air laut, sehingga menjadi air bersih layak dikonsumsi. Dibangunnya mesin daur ulang air bersih tersebut bertujuan untuk mengatasi krisis air bersih, khususnya bagi warga Kota Sigli. Ironisnya, kini alat tersebut terkesan sebagai pajangan saja. Karena, hampir sebulan terakhir ini bantuan Jepang tak bisa dimanfaatkan lagi oleh masyarakat. Sejumlah warga Kota Sigli kepada Serambi, Jumat (13/5) kemarin, mengaku sangat heran dengan tidak berfungsinya lagi mesin daur ulang itu. Sehingga mereka kembali mengalami kesulitan dalam memperoleh air bersih. Sebelumnya, ketika mesin daur ulang masih berfungsi, warga mulai pagi sampai sore hari berdesakan ke tempat tersebut. Mereka antri mengambil air bersih, bahkan ada yang membawa becak barang, sepeda motor, dan mobil bak terbuka. Namun, bagi masyarakat yang lokasinya dekat, mengangkutnya dengan menggunakan jerigen ataupun timba. Muhammad Usman Affan (52), warga Kelurahan Blang Paseh kepada Serambi mengeluhkan tidak berfungsinya lagi mesin daur ulang air bersih bantuan itu. Selama ini, menurutnya, ia sangat terbantu dengan adanya alat tersebut. Terlebih, air laut yang didaur ulang itu bisa langsung dikonsumsi. “Kami sangat kecewa, kenapa alat bantuan dari negara orang tidak berfungsi lagi. Kita semua tahu, kalau suplai air dari PDAM kurang memuaskan. Harusnya Pemkab menjaga bantuan itu,” katanya.

Anehnya, tambah Usman, pada awal berfungsinya mesin daur ulang air berlangsung baik tanpa ada hambatan. Hanya saja, secara tiba-tiba, tanpa ada kejelasan alat tersebut tak difungsikan lagi. Bantuan alat bernilai ratusan juta itu, kata seorang warga Kelurahan Kuala Pidie, Razali, perlu dipertanyakan. Karena, jika bantuan tersebut diserahkan oleh sebuah LSM Jepang kepada Pemkab, seharusnya ditangani dengan baik. Hanya saja, apakah bantuan itu diberikan kepada individu sehingga bersangkutan menggelolanya. “Sampai hari ini, kami tidak tahu apakah bantuan itu milik Pemkab,” tanya Razali. Sumber Serambi di lingkungan Setdakab Pidie menyebutkan, bantuan mesin daur ulang air bersih tersebut jelas pemberian dari Jepang. Alat tersebut sebenarnya dipasang guna mengatasi kesulitan warga untuk memperoleh air bersih. Hanya saja, menurut sumber itu, bantuan tersebut sempat diklaim milik seorang mantan pimpinan dewan. Malahan, tokoh partai besar itu berupaya meminta anggaran sebagai kompesasi dari bantuan tersebut. “Meski tokoh itu berusaha minta anggaran, kami tetap tak mau melayaninya,” sebut seorang pejabat teras Setdakab Pidie. Bisa jadi, karena permintaan untuk mendapatkan anggaran gagal maka mantan pimpinan dewan tersebut, diduga menutup operasionalnya. Karena, sebelumnya, mesin daur ulang air bersih itu berfungsi dengan baik. Begitupun, di lokasi penempatan alat bantuan Jepang, Serambi tidak menemukan adanya tanda-tanda pengumuman mesin tersebut rusak. Amatan Serambi kemarin, mesin daur ulang bantuan tersebut dibangun di depan Pendopo bupati Pidie, terlihat tertutup. Tidak terlihat aktivitas maupun petugas di mesin tersebut. Yang ada di dalam ruang itu berupa dua buah kursi plastik warna biru muda, satu meja, bangku panjang, serta jerigen yang berjejer secara rapi di samping bangunan mesin.

(http://lambaro.bangkapos.com/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=1728&rubrik=1&topik=3)