Tampilkan postingan dengan label PDAM Tirta Daroy Banda Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PDAM Tirta Daroy Banda Aceh. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 30, 2010

Gawat, Jika Sambungan Liar PDAM Libatkan Orang Dalam

Air bersih merupakan kebutuhan dasar rakyat. Salah satu indikator keberhasilan pemerintah juga terbaca dari berhasil tidaknya pemerintah menjamin kebutuhan air bersih untuk rakyatnya.

Di Kota Banda Aceh, layanan air bersih dipercayakan kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy. Hingga saat ini tercatat lebih 40.000 pelanggan yang menggantungkan kebutuhan air bersihnya kepada perusahaan tersebut. Sebagai perusahaan yang mengemban tanggung jawab strategis, wajar jika setiap waktu PDAM berhadapan dengan komplain, keluhan, dan ragam masalah lainnya dari pelanggan. Sejatinya, PDAM selalu dituntut memberikan pelayanan maksimal.

Dalam pekan-pekan ini, manajemen PDAM Tirta Daroy menurunkan tim penertiban untuk normalisasi jaringan. Targetnya adalah memaksimalkan pelayanan kepada pelanggan guna menjawab keluhan lemahnya tekanan ke kawasan-kawasan tertentu. Padahal pihak PDAM Tirta Daroy menyatakan tekanan yang dilepas dari instalasi pengolahan di Lambaro sudah maksimal.

Pembentukan tim ini, sebagaimana dilansir Serambi, didasari dugaan tingginya pencurian air yang mengakibatkan tekanan melemah. Karenanya, sambil melakukan pembenahan pada sistem jaringan, tim mengendus kemungkinan adanya sambungan ilegal, baik yang dilakukan oleh pelanggan maupun yang bukan pelanggan.

Meski kasus pencurian air bukan sesuatu yang baru, tetapi kualitas kejahatannya disinyalir semakin meningkat. Salah satunya adalah temuan sambungan ilegal yang dilakukan dengan sangat rapi dengan instalasi rumah yang nyaris sama dengan spesifikasi teknis PDAM. Ini ditemukan antara lain di Kompleks Perumahan Buddha Tzu Chi, Panteriek, Kecamatan Luengbata, Kota Banda Aceh.

Ibarat kata pepatah, sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, baunya tercium juga. Kasus itu terungkap karena data pemakaian air pada water meter tidak wajar. Berdasarkan kejanggalan itu, tim meneliti jaringan pipa, siapa tahu ada yang di by pass tanpa masuk water meter. Namun tidak ditemukan penyimpangan jaringan. Semua melewati sistem pencatat.

Tim melakukan pemeriksaan secara lebih detail. Akhirnya diketahui ada dua jalur pipa yang terkoneksi ke water meter, namun salah satunya menggunakan stop kran yang jika diatur pada posisi on, air yang masuk berasal dari jaringan  yang tidak terbaca meter. Untuk mengelabui petugas, jaringan dibuat sedemikian rupa sehingga semuanya seperti terkoneksi ke water meter. Semua jaringan tertanam sempurna di bawah beton lantai. Pelanggan bersangkutan mengaku tak ingat siapa yang mengerjakan jaringan di rumahnya. Namun hampir bisa dipastikan pekerjaan itu dilakukan oleh orang-orang berpengalaman bahkan tak tertutup kemungkinan mitra PDAM atau malah orang dalam di perusahaan itu sendiri.

Secara kuantitas bisa jadi kasusnya masih relatif kecil, tetapi yang perlu diwaspadai oleh PDAM adalah kualitas pencurian air yang semakin meningkat. Karenanya penertiban yang sedang dilakukan harus didukung. Harus ada sanksi yang tegas kepada siapa saja yang terbukti melakukan kejahatan, tak terkecuali orang-orang yang membantu kejahatan tersebut. Apalagi kalau sampai melibatkan orang dalam, ini akan sangat gawat dan berbahaya. (Sumber : Harian Serambi Indonesia)

Sabtu, Agustus 21, 2010

Wali Kota Akui Pelayanan Air Bersih belum Maksimal

Thu, Aug 19th 2010, 14:30
BANDA ACEH - Wali Kota Banda Aceh, Mawardy Nurdin mengaku pelayanan penyediaan air bersih untuk warga kota hingga saat ini belum maksimal. Padahal, berkat bantuan negara donor, instalasi pompa air (Water Treatment Plant) milik PDAM Tirta Daroy di Lambaro kini mampu memproduksi air bersih melebihi kebutuhan seluruh warga Banda Aceh. Namun sebagian kawasan permukiman seperti di Punge Jurong, Ulee Lheue, Lampulo, Keudah, Gampong Jawa, dan sejumlah kawasan lainnya masih saja kesulitan mendapatkan air bersih.

Menurut Mawardy, masalah kebocoran pipa yang belum diperbaiki, banyaknya pencurian air melalui penyambungan pipa secara ilegal, dan pelanggan yang menggunakan pompa penghisap untuk menarik air PDAM, menjadi faktor yang menyebabkan distribusi air ke rumah-rumah warga tidak maksimal.

“Kami mengakui masih ada daerah-daerah yang belum menikmati air bersih, terutama kawasan yang terkena tsunami. Namun, kami sedang berusaha agar daerah tersebut bisa mendapat air bersih secepatnya,” kata Mawardy, Sabtu (14/8). Dalam hal produksi, instalasi pompa air PDAM Tirta Daroy kini mampu menghasilkan 642 liter/detik. Sementara, kebutuhan air untuk warga Kota Banda Aceh hanya 300 liter/detik. Artinya, kapasitas produksi saat ini melebihi kebutuhan warga. “Melihat fakta tersebut, seharusnya pelayanan air sudah maksimal,” ujarnya.

Namun, peningkatan kapasitas produksi itu belum sejalan dengan upaya perbaikan jaringan pipa distribusi. Padahal sejumlah negara donor, khususnya Jepang, sudah membantu penggantian pipa yang rusak sejak beberapa tahun lalu. Sedangkan Pemko Banda Aceh, baru menganggarkan dana untuk perbaikan jaringan tersebut pada tahun 2011.

“Banyak pipa yang bocor membuat air tidak bisa didistribusi secara maksimal. Kami juga mengharapkan warga yang sudah mendapat air bersih tapi belum menjadi pelanggan, agar segera menjadi pelanggan. Dan daerah yang belum dapat air, segera melapor ke PDAM, agar PDAM bisa mencari solusi untuk segera mengatasinya,” kata Mawardy.(c47)

Rabu, Agustus 11, 2010

PDAM Tolak Tanggapi Keluhan Warga Tibang

Direktur PDAM: Sebagian Warga bukan Pelanggan
BANDA ACEH - Warga dua dusun di Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, mengeluhkan tidak mendapai suplai air PDAM di permukiman mereka. Padahal, di Dusun Meulagu dan Meulingke itu terdapat lebih dari 250 jiwa yang membutuhkan suplai air bersih setiap harinya. Keluhan warga yang disampaikan Keuchik Gampong Tibang itu ditanggapi oleh Direktur PDAM Tirta Daroy, dengan mengatakan bahwa sebagian warga yang menikmati air di gampong tersebut bukan pelanggan PDAM. Sehingga pihak PDAM Tirta Daroy menolak menangani keluhan yang disampaikan warga.

Keuchik Gampong Tibang, Mahyiddin Makam kepada Serambi mengatakan, ia telah beberapa kali mengirim surat ke PDAM Tirta Daroy untuk menyampaikan keluhan sejumlah warganya yang sudah setahun tak menerima suplai air dari PDAM. Keluhan warga itu juga ia tembuskan ke Pemko Banda Aceh. Namun, hingga kini keluhan masyarakat itu tak juga ditanggapi baik oleh PDAM Tirta Daroy yang mengelola distribusi air, maupun oleh Pemko Banda Aceh sebagai pemilik BUMD dimaksud.

“Memasuki bulan Ramadan, tentu masyarakat sangat membutuhkan air. Meskipun distribusi air bersih cukup normal di Gampong Tibang, Namun warga di Dusun Meulagu dan Meulingke, masih ada yang belum mendapatkan air bersih. Keluhan itu sudah saya sampaikan, tapi belum ditindaklanjuti,” ujar Mahyiddin, Minggu (8/8).

Ia menduga, tidak mengalirnya air ke dua dusun itu disebabkan ada bagian pipa yang tersumbat. Sehingga distribusi air menjadi tidak lancar. “Kami berharap ada petugas yang turun mengecek hal itu. Barangkali ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Selama ini warga rutin membayar tapi tidak dialiri air,” ungkap Mahyiddin.

Tolak tanggapi keluhan
Sementara Direktur PDAM, Junaidi membantah bahwa warga yang tak menerima suplai air mencapai dua dusun. Menurutnya warga yang tak mendapat suplai air hanya di satu dusun. Dia menyebutkan, satu dusun itu berada di ujung Gampong Tibang, dan sebagian warga di dusun itu bukan pelanggan PDAM. Sehingga pihaknya menolak menanggapi keluhan warga tersebut.

Kepada Serambi, Junaidi menjelaskan ada warga di dusun tersebut yang belum menjadi pelanggan tetap PDAM, tapi sudah menikmati air secara gratis dengan sebebas-bebasnya. Bahkan, terkait masalah itu, pihaknya telah melayangkan surat beberapa kali kepada keuchik setempat. Surat dimaksud, sebut Junaidi, terkait permintaan penertiban terhadap warga yang tidak berhak menikmati air, karena belum menjadi pelanggan PDAM. “Namun permintaan kami agar dilakukan penertiban terhadap warga itu belum dilaksanakan sampai saat ini,” kata Junaidi, kemarin.

Dia juga menambahkan, pihaknya tidak mau menanggapi keluhan warga itu karena setelah sekian lama menikmati air bersih, masih ada warga yang tidak melapor dan mendaftarkan diri sebagai pelanggan PDAM Tirta Daroy. “Inilah kondisi yang selalu kami hadapi. Kalau dia betul-betul pelanggan PDAM tentu akan melaporkan hal itu langsung ke kantor. Dengan cepat kami akan menurunkan petugas ke lokasi untuk mengecek kerusakan itu. Kami juga menjamin, kalau dia memang seorang pelanggan tapi tidak mendapatkan air dari PDAM, silahkan tidak usah membayar,” ujarnya.(mir)

Rabu, Mei 05, 2010

Sudah Saatnya PDAM Diswastakan

Keluhan masyarakat tentang pelayanan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) tidak pernah reda, bahkan dari hari ke hari terus meningkat. Hal ini tidak lain karena masyarakat memang sangat membutuhkan air, terutama untuk kebutuhan konsumsi dan cucian. Selama ini hanya PDAM yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut, artinya tidak ada pilihan lain bagi warga.

Sayangnya, tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air tersebut tidak mampu dilayani oleh pemerintah. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari persoalan manajemen, sumber daya manusia, hingga permodalan yang tidak seimbang. Akibatnya, masyarakat tetap saja tidak bisa nyaman untuk dapat menikmati ketersediaan air dalam tempo yang lama.

Buktinya, seperti yang dialami warga Lambaro Skep, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Mereka benar-benar kesal terhadap pelayanan perusahaan daerah itu. Pasalnya, sudah hampir seminggu suplai air bersih ke kawasan itu, macet total. Namun, hingga Jumat pekan lalu, belum ada upaya penanganan dari pihak terkait.

Seperti diutarakan warga Dusun Diwai Makan, Jafar dan Saiful kepada Serambi (edisi Jumat (2/4)), suplai air PDAM ke kawasan itu sudah terganggu sejak lima hari lalu, persisnya sejak Minggu (28/3). Warga mengira, hal itu hanya gangguan sesaat seperti yang biasa terjadi. Ternyata, hingga Senin (29/3), suplai air belum juga normal.

Akibatnya, sejak air PDAM macet, masyarakat di desa tersebut terpaksa membeli air bersih yang dibawa dengan mobil tanki. Jafar dan Saiful menyebutkan, sebagaian warga berpatungan untuk membeli air bersih dengan harga Rp 120 ribu per tanki (ukuran 4.000 liter). Satu tanki bisa digunakan untuk tiga sampai empat rumah.

Sebagian warga lainnya, juga membeli air bersih yang dijual per jeriken yang juga dibawa dengan mobil. Harganya Rp 2.000 per jeriken. Namun, warga desa tersebut merasa dirugikan dengan kondisi itu. Pasalnya, mereka harus mengeluarkan uang untuk membeli air bersih. Sementara setiap bulan, warga juga harus membayar iuran rutin ke PDAM.

Persoalan serupa sebenarnya bukan hanya dialami warga Lambaro Skep. Tetapi, kondisi itu sudah menjadi pemandangan rutin bagi warga Banda Aceh, terutama yang berada di kawasan Kampung Pineueng, Peurada, Jeulingke, Kampung Jawa, Lampulo, dan lain-lain. Warga setempat bahkan sudah lelah untuk melaporkan kondisi tersebut ke PDAM Tirta Daroy Banda Aceh.

Masalahnya, bukan PDAM Tirta Daroy tidak tanggap atau kurang peduli terhadap keluhan warganya. Tetapi, PDAM memang tidak mampu memenuhi harapan warga, yang tentu saja disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya adalah keterbatasan sumber daya manusia, manajemen, dan juga permodalan.

Untuk itu, kita menilai sudah saatnya Pemko Banda Aceh menyerahkan pengelolaan PDAM Tirta Daroy kepada pihak swasta. Sebab, manajemen swasta tentu saja berbeda dengan manajemen pemerintah. Swasta lebih mandiri dan profesional, sementara pemerintah lebih banyak kepentingan yang bermain di dalamnya. Misalnya saja, titip menitip karyawan yang sama sekali tidak punya keterampilan untuk mengelola PDAM. Akhirnya mereka menjadi beban perusahaan yang terus menerus sepanjang tahun!
(Serambi Indonesia, 05/05/2010)

Minggu, Februari 28, 2010

Bisa Menyulitkan Pengolahan Air Baku PDAM

Sungai di Banda Aceh Tercemar

BANDA ACEH - Tiga sungai di Banda Aceh, Krueng Aceh, Krueng Daroy, dan Krueng Doy tercemar limbah domestik MCK (mandi cuci kakus) dan home industry. Berdasarkan hasil penelitian tahun 2007, ketiga sungai tersebut mengandung amoniak, posphat, dan DO (Dissolved Oxygen) di ambang batas atau sudah pada tingkat membahayakan.

Informasi itu disampaikan Kepala Kantor Lingkungan Hidup Banda Aceh, Iskandar MSi didampingi Kepala Seksi Amdal, Cut Safarina Yulianti MT, kepada Serambi, Sabtu (27/2). “Jika kondisi itu dibiarkan, akan menyulitkan pengolahan air PDAM,” kata Iskandar. Iskandar mencontohkan, posphat akan sulit diendapkan flokulan. Sedangkan mikroba-mikroba nitrifikasi yang sangat halus dan mencerna amoniak menjadi nitrit. Sementara nitrit juga menyulitkan pengendapan, sehingga menurutnya membutuhkan biaya besar untuk diolah hingga normal seperti semula.

Berdasarkan penelitian sampling air Krueng Aceh pada Bendungan Karet Lambaro, Jembatan Surabaya, dan Jembatan Peunayong, kandungan amoniak (N-NH3) tercatat 0,18 mg/L, posphat (PO4-P) t5,75 mg/L, dan DO 7,54 mg/L. Sementara pengambilan sampling air di Krueng Daroy (Jembatan Keutapang dan Jembatan Putro Phang), kandungan amoniaknya 0,24 mg/L, posphat 0,21 mg/L, dan DO 7,31 mg/L. Sedangkan sampling yang dilakukan di Krueng Doy (Jembatan Punge dan Jembatan Seutui), tercatat kandungan amoniak seberat 1,20 mg/L, posphat 0,31 mg/L, dan DO 7,03 mg/L.

Menurut Iskandar, standar baku mutu sesuai PP Nomor 82 Tahun 2001 untuk kelas dua itu amoniak yang normal minus (-) mg/L, posphat 0,2 mg/L, dan DO 4 mg/L. Setelah dilakukan penelitian itu, pada 2008 Kantor Lingkungan Hidup bekerja sama dengan GTZ-SLGRS dari Jerman melakukan tindakan pencegahan dengan mendirikan satu unit IPAL limbah industri tahu yang menggunakan sistem biofuel. Namun kurang dapat dukungan dari pemilik usaha tersebut karena ketidaktahuan mereka.

Kepala Seksi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pada Kantor Lingkungan Hidup Banda Aceh, Cut Safarina menambahkan, setelah kerja sama itu tindakan yang dilakukan pihaknya yaitu melakukan pengecekan dengan kasat mata, visualisasi secara rutin dengan melakukan pemotretan sebagai bukti.

“Karena kurangnya dana, maka kita melihat kasat mata kekeruhan air sungai, warnanya yang hitam, serta rasanya yang berbeda. Setelah itu baru kita visualisasikan. Karena hanya sebatas itu yang mampu kita lakukan,” ucapnya. Akibat pencemaran, lanjut Cut Safarina, air tidak terasa enak, menurunkan oksigen terlarut, dan populasi ikan kurang sehat. Sementara jika nitrogen berlebihan bisa menyebabkan ganggang tumbuh subur.

“Nitrit amat beracun dalam air namun tak tahan lama. Air kandungan nitrat berbahaya untuk diminum sebab berubah jadi nitrit dalam perut, jika keracunan maka muka akan menjadi biru dan bisa menyebabkan kematian,” katanya. Iskandar menegaskan, solusi yang perlu dilakukan semua stakeholder adalah tidak membuang limbah, sampah, dan memotong pohon, serta mengurangi emisi karbon atau dampak rumah kaca. Sebab, katanya, masyarakat juga merupakan bagian dari lingkungan sehingga pihaknya siap mensosialisasikan tentang pengolahan limbah jika diminta. (c47-SerambiNews)

Rabu, September 09, 2009

Aceh-Korsel tandatangani pembangunan instalasi air siap minum

Wednesday, 09 September 2009 19:52


Warta - Aceh
WASPADA ONLINE

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh dan Korea Selatan menandatangani kerja sama bantuan hibah pembangunan instalasi air siap minum dengan dana sebesar Rp60 miliar.

"Proyek ini akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama dimulai tahun ini di dua lokasi di Kota Banda Aceh masing-masing membutuhkan dana Rp30 miliar," kata wakil gubernur Aceh Muhammad Nazar di Banda Aceh, Rabu.

Penandatanganan dilakukan oleh wakil gubernur Aceh dengan asisten manajer divisi listrik Samsung, Steven Kim. Raksasa perusahaan Korea Selatan tersebut akan mendanai pembangunan instalasi air siap minum di Aceh.

Pembangunan instalasi air siap minum itu merupakan bagian dari program East Asia Climate Change Partnership dengan total dana 200 juta dolar AS untuk seluruh Asia Timur. Sementara untuk Indonesia, proyek itu secara khusus akan dilakukan di Aceh.

Proyek akan berlangsung selama lima tahun dengan tahap pertama dibangun langsung oleh Korea Selatan dan tahap selanjutnya akan dilelang.

"Proyek ini merupakan solusi jangka pendek untuk masyarakat yang membutuhkan air bersih," tambah Nazar, seraya menambahkan proyek pertama akan dimulai di Banda Aceh khususnya di daerah-daerah yang sulit memperoleh air bersih.

Sementara itu, Asisten Manajer Divisi Listrik Samsung, Steven Kim mengatakan, pihaknya sangat senang atas respon yang diberikan Pemerintah Aceh.

"Kami berharap proyek ini akan semakin berkembang dan sukses sehingga bisa melanjutkan proyek lainnya," katanya.

Hak Jun Kim, Direktur Vogo Mining Co Ltd yang mendampingi pihak Samsung di Aceh mengatakan, instalasi air siap minum itu menggunakan teknologi perpaduan antara tenaga solar dan fotovoltaic. Suatu teknologi konversi yang mengubah cahaya (foto) menjadi listrik (volt) secara langsung (direct conversion).

"Instalasi ini akan mampu mengairi 500 hingga 700 rumah tangga dengan teknologi yang modern," tambahnya.
(dat06/ann)

Kamis, April 16, 2009

Banda Aceh Defisit Air Bersih

16 April 2009, 15:50 Kutaraja Administrator

BANDA ACEH - Akhir tahun 2009, warga Kota Banda Aceh diperkirakan akan semakin kekurangan air bersih. Suplai air dari PDAM Tirta Daroy mengalami defisit hingga 16,22 persen akibat belum berfungsinya jaringan pipa baru dan pencatatan water meter yang tidak akurat. Hal itu terungkap dalam diskusi antara pihak manajemen PDAM Tirta Daroy dengan sejumlah warga Banda Aceh dan Aceh Besar, yang difasilitasi Palang Merah Irlandia, Rabu (15/4).

“Berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) akhir Tahun 2009, diperkirakan tingkat kehilangan air mencapai 16,22 persen. Dengan asumsi, yang didistribusikan sebesar 1.358.465 M3 dan air yang terjual sebesar 1.138.052 M3,” ungkap Azhari, Direktur Keuangan PDAM Tirta Daroy, dalam diskusi yang juga dihadiri sejumlah lembaga donor, kemarin.

Dia menjelaskan, penyebab kehilangan air itu dikarenakan pembacaan water meter yang terpasang tidak akurat. Disamping masih menggunakan jaringan pipa lama yang rawan terjadi kebocoran, dan belum berfungsinya jaringan pipa baru secara optimal.

“Sedangkan penyebab putusnya suplai air ke Desa Deah Raya dan Alue Naga, karena kerusakan jaringan pipa sekunder dari jalur Tibang ke Alue Naga. Hal itu akibat pembangunan jalan di desa setempat. Untuk mengantisipasinya, dalam waktu dekat kami akan melakukan perbaikan jaringan melalui pipa sekunder,” kata Azhari. Dalam kesempatan itu, sejumlah pelanggan PDAM Tirta Daroy dan PDAM Tirta Montala juga menyampaikan keluhannya. Mereka meminta, PDAM tidak melakukan penggalian pipa berulang-ulang. Sehingga mengorbankan pelanggan.

“Menurut kami permasalahan yang dihadapi PDAM selama ini karena kurangnya koordinasi antara PDAM dengan pihak terkait lainnya, dimana saat dilakukan perbaikan ada saja pihak lain melakukan penggalian di lokasi tersebut. Sehingga jaringan yang sudah diperbaiki rusak kembali,” ungkap Muhammad, warga Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.

Smentara itu, gangguan pendistribusian air akan terjadi pada jaringan pipa ke bagian utara Banda Aceh, yaitu Kecamatan Syiah Kuala, Kuta Alam dan Ulee Kareng. Serta bagian selatan yaitu Kecamatan Baiturrahman, Luengbata, Meuraxa, Kutaraja, Bandaraya dan Jayabaru. Seperti dikatakan, gangguan distribusi air ini karena masih berfungsinya pipa tersier lama dan belum berfungsinya jaringan baru secara optimal.(tz)

Senin, Maret 16, 2009

Warga Dua Desa belum Nikmati Air PDAM

16 Maret 2009, 09:46 Kutaraja Administrator

BANDA ACEH - Sudah empat tahun lebih, warga dari dua desa yakni, Deah Raya dan Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, hingga kini belum dapat menikmati air dari PDAM Tirta Daroy. Padahal, di dua desa pesisir itu telah lama dipasang pipa untuk jaringan air. Sehingga masyarakat terpaksa mengkonsumsi air sumur yang keruh dan asin.

Kesulitan untuk mendapatkan air bersih itu, sudah hampir lima tahun dialami warga. Padahal, Walikota Banda Aceh, Ir Mawardy Nurdin pernah berjanji akan segera mengatasi masalah kesulitan air bersih di Deah Raya dan Alue Naga.

“Kami hanya sekedar mengigatkan, bahwa sampai saat ini masyarakat di Deah Raya dan sebagian Alue Naga, belum menikmati fasilitas air bersih dari PDAM, karena sampai kini jaringan pipa yang telah dibangun tidak berfungsi,” kata Mettra Warisuddin salah seorang warga setempat.

Sejumlah warga lainnya juga mengaku, bahwa persoalan tersebut sudah beberapa kali disampaikan kepada sejumlah anggota DPRK dan Walikota Banda Aceh. Namun, menurut warga, laporan yang disampaikan itu dianggap seperti angin lalu. “Laporan kami pada anggota DPRK dan Walikota sama saja seperti kita menyukat air pakai keranjang, ya sia-sia saja dan tak ada gunanya,” ujar warga.

namun, warga juga mengakui bahwa di desa mereka ada disediakan sumur bor, tapi air sumur bor itu tidak mampu memenuhi kebutuhan air untuk seluruh warga. Selain itu, menurut warga air sumur tersebut juga tidak layak untuk dikonsumsi. “Karena itu, kami sangat mengharapkan agar pihak Walikota ataupun pimpinan PDAM Tirta Daroy segera mencari solusi, sehingga kebutuhan air bersih untuk warga dua desa itu dapat terpenuhi,” ujar tokoh masyarakat Deah Raya.(tz)