Kamis, Mei 07, 2009

Pengurus dan Anggota Perpamsi Aceh

Pengurus & Anggota Perpamsi Aceh :
  1. PDAM Tirta Montala-Jantho, Direktur : T.Aiyub Novizal, SE,Ak (Ketua)
  2. PDAM Aceh Timur, Direktur : Faisal SE, (Wakil Ketua)
  3. PDAM Tirta Fulawan-Simeulue, Direktur : Ir. Rasmal K (Sekretaris)
  4. Bendahara : Dra. Rosmala (Direktur Keuangan-PDAM Tirta Montala).
  5. PDAM Tirta Daroy-Banda Aceh, Direktur : Junaidi, SSos
  6. PDAM Tirta Aneuk Laot-Sabang, Direktur : Husaini, ST
  7. PDAM Tirta Mon Kreung Baro-Sigli, Direktur : Drs. H. Asmadi Ajie
  8. BPAM Tirta Meureudu-Pidie Jaya, Direktur : Ir. Hanif, MSc
  9. PDAM Tirta Krueng Peusangan-Bireun, Direktur : Isfadli, SE
  10. PDAM Tirta Mon Pase-Aceh Utara, Direktur : Drs. Yunus Kiran
  11. PDAM Tirta Keumuneng-Langsa, Direktur : Supriadi, ST
  12. PDAM Tirta Tamiang-Kuala Simpang, Direktur : Suheri
  13. PDAM Tirta Meulaboh, Direktur : Syahrizal, ST
  14. BDAM Aceh Jaya, Direktur : Ir. Norman
  15. BDAM Nagan Raya, Direktur : Arkam
  16. BDAM Abdya, Direktur : Irfan, ST
  17. PDAM Tirta Naga-Tapak Tuan, Direktur : Sakdah, ST
  18. PDAM Tirta Singkil, Direktur : Ir.H.Azwan Aziz, MM
  19. PDAM Tirta Agara-Kutacane, Direktur : Samsalat
  20. PDAM Tirta Sejuk-Blang Kejeren, Direktur : Arizal, ST
  21. PDAM Tirta Tawar-Takengon, Direktur : Hidayat, SE
  22. PDAM Tirta Bengi-Bener Meriah, Direktur : Ir. Mansyur Komaruddin
Kantor Sekretariat :
PDAM Tirta Montala Unit Ie-Siron
Jalan Tanggul Krueng Aceh Lambaro
Telepon :
0651 92120
Faks :
0651 7557605

Staff Harian Sekretariat :
Teuku Syahrul
Sunawar
Salman Farisi

Tanggulangi Krisis Air Bersih

Pemkab Aceh Barat Datangkan Alat dari China

7 May 2009, 08:46 Nanggroe Administrator

MEULABOH-Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, akan mendatangkan alat canggih dari negara tirai bambu, China untuk mengatasi krisis air bersih di wilayah itu yang nantinya akan digunakan pada PDAM Tirta Meulaboh. Namun, kepastian kapan alat itu akan tiba di Bumi Teuku Umar sejauh ini belum bisa dipastikan mengingat pemkab setempat belum mengetahui darimana anggaran tersebut bisa diperoleh. Kabarnya, untuk mendatangkan alat canggih itu pemkab setempat tak akan mendatangkan investor dari China, melainkan akan mengandalkan para investor lokal dari Aceh karena alat tersebut harganya tak begitu mahal yakni berkisar di bawah Rp 10 Miliar.

Hal itu diungkapkan Bupati Aceh Barat, Ramli MS kepada Serambi, Senin (4/5) lalu. Menurutnya keinginan pemkab setempat untuk membeli alat tersebut setelah beberapa hari lalu melakukan kunjungan ke negara China atas undangan negara tersebut yang mewakili Provinsi Aceh bersama perwakilan lainnya dari Indonesia. “Kita berharap dengan adanya alat ini, persoalan krisis air bersih akan segera tertangani dengan baik, dan mampu menyuplai air bersih kepada masyarakat dengan jumlah yang lebih tinggi, dengan kualitas air terbaik,” jelasnya.

Menurutnya, pembelian alat tersebut nantinya pemkab setempat akan menggaet beberapa pengusaha atau investor lokal guna menanamkan modalnya di PDAM Tirta Meulaboh, karena ia beralasan tak mengundang investor dari China karena nantinya pengelolaan air bersih itu akan ditangani pihak asing selama puluhan tahun. Sehingga hal itu dinilai tak efektif, apalagi masih banyak SDM di Aceh Barat guna mengelola alat tersebut.

Bahkan, untuk mewujudkan hal itu ia juga telah mengantongi beberapa nama pengusaha atau investor lokal untuk membeli alat tersebut guna dioperasikan dengan secepatnya, apalagi kebutuhan alat tersebut dinilai sangat mendesak karena memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Di sisi lain, kata Bupati Ramli MS, dalam waktu dekat pihaknya juga akan segera melaukan launching produk air minum mineral dari kabupaten setempat, dengan sumber mata air yang sengaja diambil dari Desa Cot Pluh, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat guna memenuhi kebutuhan air mineral di wilayah itu. karena prospek pengembangan bisnis air minum di Bumi Teuku Umar itu sangat menjanjikan. (di)

Selasa, Mei 05, 2009

PDAM Dinilai Abaikan Permohonan Warga

5 May 2009, 08:02 Pase Administrator

LHOKSUKON - Masyarakat di Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, menilai PDAM Tirta Mon Pase telah mengabaikan permohonan warga, untuk mendapatkan fasilitas air bersih. Pasalnya, meskipun warga sudah mengajukan permohonan pembuatan jaringan air bersih ke desa itu sejak 2006 lalu, namun hingga kini ratusan kepala keluarga (KK) di kawasan itu masih mengkonsumsi air sungai.

Warga Pirak Timu, Razali, Senin (4/5) mengatakan, warga desa itu sejak dulu hingga kini masih saja mengonsumsi air sungai karena distribusi air bersih tak sampai ke wilayah tersebut. “Permohonan sudah kita ajukan sejak 2006, tapi ngak ada respons walaupun kami tanya berulang kali,” ketusnya. Padahal, menurut Razali, jika perusahaan daerah ini mau membangun fasilitas air bersih ke kawasan itu, hanya tinggal menyambung pipa dari Desa Asan, Kecamatan Lhoksukon, yang hanya melintasi sungai Inong. “Jika sudah ada jaringan, lebih 500 rumah di 10 desa dari Desa Asan Krueng Kreh hingga Alue Bungkoh siap memakai air bersih tersebut,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Razali, nama-nama warga yang sudah pasti memasang jaringan air PDAM telah dikirim bersama proposal tersebut. “Kami warga di sini sedih dan kecewa mengapa dari dulu hingga saat ini harus terus mengonsumsi air sungai yang sering keruh. Karenanya, kami mohon perhatian pemerintah,” harapnya.

Tak ada dana
Direktur Umum PDAM Tirta Mon Pase, M Rizal, membenarkan beberapa tahun lalu pihaknya telah menerima permohonan dari masyarakat Pirak Timu. Tapi, hingga kini pihaknya tidak punya dana untuk membangun jaringan air bersih ke kawasan tersebut. Sebab, menurut Rizal, setiap kali diajukan anggarannya, selalu tidak disetujui saat pembahasan APBK. “Tahun 2007 dan 2008 kami ada mengajukan dana untuk pembangunan jaringan air bersih yang baru, tapi selalu ditolak. Sehingga kami tidak punya dana untuk membuat jaringan air bersih ke kawasan Pirak Timu,” kilahnya.(bah)

Senin, Mei 04, 2009

Pipa PDAM Bocor Membentuk Kubangan

Bocah Bagok Tewas Tenggelam

4 May 2009, 07:45 Nanggroe Administrator

Lubang PDAM

Lubang pipa PDAM bocor yang menyebabkan bocah Muhammad Angga Saputra (2,5), warga Matang Neuheun, Kecamatan Nurussalam (Bagok), Aceh Timur, tewas tenggelam. SERAMBI/ ISKANDAR USMAN

IDI - Muhammad Angga Saputra (2,5) seorang bocah putra Idawati (35) warga Matang Neuheun, Kecamatan Nurussalam (Bagok), Aceh Timur, Minggu (3/5) sekira pukul 6.30 WIB, tewas tenggelam dalam kubangan yang berada di dekat pinggir jalan negara, beberapa meter dari rumah korban. Kubangan itu terbentuk akibat pipa PDAM Tirta Peusada Aceh Timur, bocor. Informasi yang diperoleh Serambi di lokasi kejadian, di pagi itu ibu korban Idawati, sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur. Sedangkan putranya Angga yang baru bangun dari tidur langsung ke luar rumah untuk bermain. Tak ayal, sang bocah pun terjatuh ke lubang penuh air yang terbentuk akibat pipa PDAM bocor di dekat rumahnya. Dilaporkan, tidak seorang pun yang melihat bagaimana bocah tersebut terjatuh dalam kubangan itu.

Berselang sekitar satu jam kemudian, Zakir yang rumahnya persis di depan rumah korban melintas. Zakir sendiri pagi itu hendak menuju ke rumah korban yang kebetulan bagian depannya dijadikan kios, untuk membeli pulpen. Namun, Zakir tiba-tiba melihat dalam lubang yang dipenuhi air itu terdapat baju anak-anak dengan kondisi terapung. Saat ia mendekat dan bermaksud memeriksa baju tersebut, Zakir pun terperanjat. Ternyata yang terapung itu adalah Angga, bocah tetangganya.

Lalu, Zakir memanggil ibu korban dan warga lain. Seketika saja tetangga korban datang ke TKP. “Begitu kami mengeluarkan korban dari dalam air, korban tidak bernyawa lagi, “ ujar Muhammad (55), Kadus Dusun Kedongdong, desa setempat. Dikatakan sang Kadus, kebocoran pipa PDAM itu berawal, Sabtu (2/5), sekira pukul 21.00 WIB. Ketika itu, kebocoran tidak begitu kencang. Sementara menjelang tengah malam, kebocoran pipa bertambah parah, hingga kondisi tanah yang berpasir di daerah itu menjadi lubang besar yang mencapai lebar 1x1 meter dan kedalaman 2,5 meter.

Kepala Desa Matang Neuheun, Darmawan mengungkapkan, pihaknya menerima laporan dari warga terkait kebocoran pipa sekira pukul 21.00 WIB. Air PDAM yang bocor, kata dia, mengalir sangat deras. Saat itu lubangnya masih kecil, di tengah malam air keluar sangat deras seperti air mancur. Paginya harinya lubang itu sudah seperti sumur. Sementara itu, Kepala PDAM Tirta Peusada Aceh Timur, Ir Faisal Saifuddin yang dikonfirmasi Serambi secara terpisah kemarin membenarkan peristiwa tersebut. “Kami telah terima laporan dari PDAM Lhok Nibong dan Ranting Bagok,” katanya.

Faisal juga menyatakan, kebocoran itu akibat pipa sudah berumurnya sedikitnya 20 tahun. “Ini treatmen kita kan sudah siap yang di Lhoknibong, jadi ketika air mengalir jadi tumpah. Ini pun mungkin masih banyak jaringan pipa yang bocor dan akan kita perbaiki,” ujarnya. Pihaknya, kata dia, juga mengucapkan belangsungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggal bocah Angga. “Pihak PDAM saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah duka,” kata Faisal sore kemarin. (is)

Minggu, Mei 03, 2009

Sabsas Masih Terima PDAM Mon Pase

3 May 2009, 09:46 Pase Administrator

LHOKSUKON - Koordinator Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Regional Provinsi Aceh, Azhari Ali mengatakan, hingga kini Sabsas masih membuka peluang kerjasama dengan seluruh PDAM di Aceh. Termasuk dengan PDAM Tirta Mon Pase, Aceh Utara, yang telah mengundurkan diri dari program kerjasama dengan NGO asal Belanda yang membidangi fasilitas air bersih di Indonesia ini.

“Sabsas masih membuka pintu kepada PDAM Tirta Mon Pase untuk bergabung lagi. Hingga saat ini, Sabsas sudah menjalin kerjasama dengan sembilan kabupaten/kota di Aceh. Tujuannya, memperbaiki jaringan air bersih yang rusak dihantam tsunami. Program ini dilakukan secara hibah,” kata Azhari Ali, kepada Serambi, Sabtu (2/5).

Azhari merincikan, ke sembilan kabupaten/kota yang terikat kerjasama dengan Sabsas, masing-masing Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Besar, Banda Aceh, Simeulue, Bireuen, Aceh Barat, Pidie, dan Pidie Jaya. Semuanya sudah menandatangani MoU. Untuk menjalankan proyeknya, akan ditender sesuai dengan aturan.

“Sabsas merupakan kepercayaan Pemerintah Belanda untuk menangani persoalan air bersih di Indonesia. Di Aceh khususnya, diberikan secara hibbah,” katanya. Ia menambahkan, kerjasama ini dirintis ketika ia menjabat Dirut PDAM Tirta Mon Pase. Dengan kerjasama ini, tambahnya, dapat menghemat dana APBK masing-masing kabupaten/kota. Buktinya, sembilan kab/kota yang kini telah bekerjasama dengan Sabsas, tak lagi mengajukan permohonan anggaran dalam APBK.

Sebenarnya, kata Azhari, Aceh Utara juga pernah menerima dana hibah dari Sabsas. Sehingga, saat itu pelanggan yang ingin memasang meteran hanya perlu membayar Rp 250.000. Sementara harga tanpa subsidi waktu itu mencapai Rp 800.000/unit. Tapi, akhirnya Aceh Utara keluar dari program itu dan mengajukan anggaran dalam APBK yang mencapai belasan miliar.(ib)

Sabtu, Mei 02, 2009

Air PDAM Mati, Warga Kelimpungan

2 May 2009, 09:14 Nanggroe Administrator

KUALA SIMPANG – Distribusi air dari Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Aceh Tamiang kepada pelanggan sudah enam hari mandeg alis “mati”, akibatnya sejumlah warga Kota Kuala Simpang dan sekitarnya kelimpungan dan terpaksa menumpang mandi ke rumah tetangga. Nova (26) warga Kampong Dalam, Kecamatan Karang Baru kepada Serambi, Jumat (1/5) mengatakan, sejak enam hari lalu air PDAM tidak terdistribusi kepada pelanggan, sehingga membuat ia kelimpungan untuk keperluan rumah tangga.

Bahkan sejak air PDAM tidak ngalir, Nova mengaku tidak melakukan atifitas memasak. “Karena tidak ada air, kami terpaksa tidak masak, beli nasi dan air minum di luar,” ujarnya dan menambahkan setiap pagi dan sore terpaksa mengungsi ke tempat famili ke perumahan BTN Desa Bundar untuk mandi. Dikatakan Nova, kondisi ini sangat merugikan pelanggan karena pelayanan yang diberikan perusahaan air minum tersebut tidak memuaskan. Padahal setiap bulan mereka membayar rekening air tepat waktu. “Jika kami telah membayar rekening air, pihak PDAM mengenakandenda sebesar Rp 5.000,” ujarnya lagi.

Informasi lain yang diperoleh Serambi menyebutkan, air PDAM hanya mengalir pada malam hari sekitar pukul 22.00 WIB, itupun untuk rumah yang berada di sekitar jalan Medan–Banda Aceh. Sedangkan rumah yang berjarak sekitar 200 meter dari jalan tersebut airnya tidak mengalir lagi. Sebagian besar rumah tangga di Desa Kampong Dalam tidak memiliki sumur galian dan sumur bor karena daerah tersebut salah satu desa yang banyak gasnya di bawah tanah sehingga dilarang membuat sumur bor. “Dengan kondisi geografis tersebut seharusnya PDAM lebih mengutamakan distribusi air ke Desa Kampong Dalam karena sebagian besar rumah tangga didaerah tersebut bergantung pada air PDAM,” ujar seorang warga. Hingga kemarin belum didapat konfirmasi dari Kepala PDAM Tamiang menyangkut kemacetan distribusi air itu. (md)

Jumat, Mei 01, 2009

Tapping Liar, Mobil PDAM Nganggur

DIPOSTING OLEH Redaksi Intipnews on Thursday, 30 April 2009No Comment
MOBIL PDAM NGANGGUR - Mobil-mobil tangki milik PDAM Tirta Fulawan Simeulue yang selalu stanby melayani distribusi air bersih kepada masyarakat di kota Sinabang, Aceh dan sekitarnya, otomatis menganggur atau tak jalan lagi dikarenakan banyaknya tapping-tapping liar yang mencuri langsung air bersih dari pipa transmisi induk milik PDAM setempat.(Foto Kiriman : PDAM Tirta Fulawan/Rasmal Kahar)