Kamis, Desember 25, 2008

Rakerda Perpamsi Aceh di Kuala Lumpur.


Tukang leideng Aceh berpose didepan kantor Perdana Menteri Kerajaan Malaysia, komplek perkantoran Putra Jaya, Kuala Lumpur.
Dari kiri ke kanan :
Ir. Rasmal (Simeulue), T.Syahrul (Jantho), Zuardi (Meulaboh), Ir. Supriadi (Langsa), Husaini ST (Sabang), T. Novizal Aiyub SE (Jantho), Drs. Asmadi Ajie (Sigli), Faisal S SE (Idi), Rizal Efendi SE (L'seumawe), Dra. Rosmala (Jantho), Arizal SE (Gayo), Isfadli SE (Bireun), Junaidi SSos (Banda Aceh), Safrizal (L'seumawe) dan Sunawar (Jantho).

Rabu, Desember 24, 2008

Pernak Pernik Raker di M'sia & S'pore (bagian I)


Kena tipu aku sama teropong ini.....
cape ku-intip, kutekan sana sini..
rupanya harus pake koin....
cukimaiiiii......!





Ini kan bekas istana leluhurku
jaman dulu
karena nenek moyangku
pernah menjajah sampai ke singapur...!




Hai coba jawab
tau gak
patung singa
di latar belakang dan
menjadi maskot S'pore itu
jenis kelaminnya apa sih,
laki-laki atau perempuan....!?




Pante' uek-nyo...
rupajih yang meukat
awak tanyo
di rumoh makan
S'pore nyo...!





Peu yang neu fotonyan...
neu-foto ureung jih,
peu pha jiih
yang puteh
mengkilapnyan...!?
he he he...

Minggu, Agustus 31, 2008

Belanda Hibahkan Rp 1,2 Triliun untuk Bangun Tujuh PDAM Aceh


Serambi Indonesia
Jumat, 31 Agustus, 2007

Banda Aceh: Gabungan Perusahaan Air Minum Belanda (SAB-SAS) memberikan bantuan 10 miliar Euro atau sekitar Rp 1,2 triliun untuk pembangunan instalasi dan pengolahan air minum di tujuh kabupaten/kota pada wilayah timur dan utara Aceh.

Penyerahan bantuan itu diawali dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) for Information of A Regional Aceh West Coast Water Company, Kamis (30/8), di Pendapa Gubernur Aceh yang disaksikan Wagub Muhammad Nazar dan Perwakilan dari Belanda, Mr Taco de Vries.

Program Manager Gabungan Perusahaan Air Minum Belanda (SAB-SAS), Taco de Vries dalam sambutannya mengatakan, sistem pengelolaan perusahaan air bersih yang selama ini diterapkan di tujuh kabupaten/kota pada wilayah pantai timur-utara Aceh itu belum menguntungkan. Alasannya, karena antara satu dengan lainnya belum terintegrasi, sehingga membuat tarif air jadi tak seragam dan biaya operasi jadi tinggi.

Misalnya, Aceh Tamiang dengan Kota Langsa. Perusahaan daerah air minumnya terpisah, padahal rencana pengembangan perusahaan air minum Kota Langsa harus mengambil air baku dari wilayah Tamiang. Kedua perusahaan air minum ini ditambah Aceh Timur, industri pengolahan air minumnya perlu digabung jadi satu untuk memperkuat sistem, sehingga biaya pengolahan menjadi lebih efisien dan efektif. Begitu juga Kota Lhokseumawe dengan Aceh Utara, Bireuen dengan Pidie Jaya yang merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Pidie.

Ketujuh perusahaan air minum daerah itu, menurut Mr Taco de Vries, jika manajemennya disatukan, maka pelayanan kepada konsumen bisa lebih memuaskan dan pasti. Tidak seperti yang terjadi sekarang, pelayanan kepada pelanggan PDAM belum memuaskan, akibat terbatasnya kemampuan suplai dan besarnya biaya operasi yang dikeluarkan.

Dengan disatukannya manajemen pengelolaan kedua PDAM tersebut, katanya, maka tarif air bisa seragam dan biaya pengolahannya menjadi lebih irit.

Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar mengatakan, kerja sama ini sangat penting, apalagi menyangkut kebutuhan dasar orang banyak, yaitu air bersih. “Atas nama Pemerintah Aceh, kami ucapkan terima kasih dan mendukung sepenuhnya rencana Asosiasi Perusahaan Air Minum dari Belanda yang akan membangun sistem dan produksi pengolahan air minum pada tujuh kabupaten/kota dalam wilayah pantai timur utara Aceh. Kecuali itu, jumlah dana yang dihibahkan untuk maksud tersebut juga cukup besar mencapai 10 miliar Euro, sekitar Rp 1,2 triliun,” kata Wagub.

Kepada Azhari Ali SE yang telah dipercayakan pihak SAB-SAS Belanda sebagai pimpinan regionalisasi PDAM pantai timur-utara Aceh itu, Wagub berharap, bisa melaksanakan tugasnya secara profesional, membawa PDAM Tirta Mon Pase, Aceh Utara, sebagai pilot project yang menjadi triaksi peningkatan derajat kesehatan masyarakat di tujuh kabupaten/kota.

Program itu, sebut Wagub, merupakan seruan aksi nasional yang telah dideklarasikan Menko Kesra pada 21 November 2005. Kecuali itu, penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial yang pernah diterima dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, harus bisa menjadi tolok ukur suksesnya program ini.

Walikota Langsa, Zulkifli Zainon, yang dimintai Serambi tanggapannya mengatakan, Pemko dan warga Kota Langsa mengharapkan program pembangunan jaringan dan produksi air minum terpadu regional pantai timur-utara Aceh ini bisa cepat diselesaikan. “Dalam pelaksanaan proyeknya harus menggunakan ukuran standar dan kualitas yang jelas, serta tidak KKN,” timpalnya.

Apalagi, menurutnya, sumber air baku dan pabrik pengolahan air minum yang ada di Kota Langsa sekarang merupakan peninggalan zaman Belanda, sehingga hanya mampu mensuplai 10-20 persen dari kebutuhan air penduduk.

“Kalau bantuan Belanda itu nanti selesai, ini akan menjadi sejarah penting bagi Kota Langsa. Artinya, peninggalan PDAM Belanda itu akhirnya diganti oleh Belanda juga ,” ujarnya. (her)

Selasa, Mei 20, 2008

POR Tukang Leideng di Padang (Bag II)


5 direktur leideng Aceh Husaini ST (Sabang), Ir. Rasmal (Simeulue), Drs.Syamsul Bahri (Banda Aceh), Isfadli SE (Bireun) dan Faisal S SE (Idi)
berpose sejenak di Lembah Anai sebelum menuju Bukit Tinggi-Sumbar
Belum sah ke ranah Minang kalau belum merasakan sate 'Mak Syukur' di kota Padang Panjang
Dari kiri ke kanan :
Drs.Syamsul Bahri (mantan direktur Tirta Daroy Banda Aceh), Ir.Rasmal K (direktur Tirta Fulawan Simeulue), Husaini ST (direktur Tirta Aneuk Laot Sabang), Isfadli SE (direktur Tirta Peusangan Bireun), Rita (mahasiswi Aceh di Unand Padang, ponakannya Isfadli SE), Drs.Djamaluddin (mantan direktur Tirta Tamiang Kuala Simpang)

Di gua bawah tanah peninggalan Jepang di kota Bukit Tinggi yang menurut direktur Tirta Aneuk Laot dan Tirta Peusangan "....cukup menarik, rugi kelian kalo gak liat dan pergi turun kebawah...!" tapi ucapan mereka diutarakan dengan nafas terengah-engah dan tersengal-sengal.... jadinya kita berdua gak jadi turun deh....!
he he he... khee kemeung geupungut...!?

Nampang di depan 'Jam Gadang' Bukit Tinggi
Salah satu maskot pariwisatanya urang awak.

Senin, Mei 19, 2008

POR Tukang Leideng di Padang (Bag I)


Inilah kontingen tukang leideng Aceh + sikembar
ketika mengikuti POR Perpamsi di Padang Sumbar
pada medio akhir Agustus 2008 lalu
Ada yang tau gak si kembar ini...
mana abang, mana adek...!?
he he he bapaknya aja (ketua Perpamsi Aceh)... kadang-
kadang silap mengenal mereka...!

Kontingen Aceh plus.
Plusnya karena ada peserta asli tapi palsu
yakni bung Yusuf Jasari....he he he...

Sejenak berpose di kelokan 34 dari 99 kelokan
yang tersohor ke seantero jagad
antara Bukit Tinggi dengan Danau Maninjau....

Dilapangan olahraga tukang leideng Aceh cukup jadi 'penggembira' saja dibanding peserta-peserta lain dari pelosok nusantara,
tapi dalam dunia tarik suara
kita orang gak kalah dah..
walau tak dapat juara....!
Pose dulu dah di patung Japanish
walau dengan nafas masih
ngos-ngosan....!

Rabu, Februari 27, 2008

Palang Merah Amerika Bangun Pengolahan Air Bersih di Calang


Rabu, 27 Pebruari 2008 | 16:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Palang Merah Amerika akan memulai pembangunan sistem air dan sanitasi di Kota Calang, Kabupaten Aceh Jaya. Peletakan batu pertama pembangunan Tempat Pengolahan Air Bersih (Water Treatment Plant - WTP) diselenggarakan di Krueng Sabee – Calang, Rabu (27/2).

Wilda Aggraeni, Communication Officer palang Merah Amerika dalam siaran persnya menyebutkan tempat pengolahan air bersih berada di Krueng Sabee. Dilengkapi tangki berkapasitas 350 meter kubik. WTP Krueng Sabee akan menyediakan fasilitas air untuk 6.100 orang di 1.260 unit rumah.

Sementara, untuk program sanitasi akan menitik beratkan pada jenis septik tank cincin bawah kedap air yang konkrit (Reinforced Concrete Sealed Bottom Septic Tank). Kapasitasnya diperkirakan mampu melayani 3.275 orang dari populasi Calang atau dipasang di 655 unit rumah.

Joselito N Jose, Urban Water and Sanitation System (UWSS) Delegate untuk Palang Merah Amerika di Aceh Jaya mengatakan sebagian besar rumah permanen di Calang dibangun tanpa septik tank cincin bawah kedap air.

Palang Merah Amerika berkomitmen memberi USD $ 209 juta untuk Program Pemulihan Tsunami dan sebanyak USD $ 45 juta dari total dana tersebut dialokasikan untuk mendukung air dan sanitasi di Aceh. Adi Warsidi

Senin, Januari 28, 2008

Memperoleh Air Bersih Di Sinabang Sesulit Di Gurun Sahara


Cetak E-mail
Monday, 28 January 2008 03:00 WIB
WASPADA Online

Dari 82.000 penghuni pulau Simeulue saat ini, diperkirakan sepertiga berdomisili di kota Sinabang—Ibukota Kabupaten Simeulue, penduduk kota yang terdiri dari multi etnis, umumnya menggunakan bahasa jame sebagai bahasa sehari-hari.

Warga Simeulue, khususnya di kota Sinabang yang heterogen, meski diklaim banyak pihak mayoritas hidup di bawah garis prasejahtera. Namun kemiskinan tidak membuat warga kelimpungan, lalu menghalalkan semua cara untuk memenuhi kebutuhah hidup.

"Ada memang yang menempuh cara illegal untuk menjadi kaya," kata sebuah sumber di sana. Tapi menurut dia, intensitasnya kecil bila dibanding dengan di luar sana. Ditengarai hanya oknum yang memiliki jabatan di pemerintahan, sedangkan oknum masyarakat murni—petani, nelayan, pedagang nyaris tidak ada.

Lah, bicara tentang warga di perkotaan Sinabang, seorang pegawai Pengadilan Negeri Sinabang, Sabaraduin alias Saudin, kepada Waspada kemarin menuturkan yang paling menarik untuk dipikirkan masalah sulitnya memperoleh air bersih bagi warga Sinabang. Ini adalah persoalan krusial yang sudah berlangsung lama.

Benar memang. Media ini sendiri sudah sejak beberapa tahun lalu intens menyuarakan persoalan air bersih bagi kebutuhan warga perkotaan itu. Betapa tidak, tatkala musim kemarau tiba siapapun pasti merasa prihatin bila melihat ibu rumah tangga, khususnya yang hidup pas-pasan. Terkadang dengan menggendong bayi sembari mengikat pinggang kuat harus mengangkat air bertimba, berjerigen dari jarak kiloan meter.

Bahkan tak jarang kalau sudah hujan tidak turun lebih seminggu, sebagian bocah-bocah khusus yang pria meski keselamatan jiwa terancam tenggelam atau disantap ikan-ikan ganas, mereka tetap terjun dan mandi laut untuk memperoleh air bersih.

"Kesulitan utama kami warga Sinabang, yakni soal air bersih. Terkadang kalau saat kemarau datang untuk mendapat air bersih sesulit orang yang berada digurun Sahara," kata Jari, ibu rumah tangga separuh baya yang berdomisili di Dusun Sedap Malam, Desa Suka Maju Sinabang, suatu ketika.

Tetangganya War, 50, mengutarakan hal serupa. Menurutnya, kebutuhan air bersih selama ini, dia dan umumnya warga kota Sinabang, bergantung pada tadahan. Air hujan lalu ditampung dalam bak. Namun bila tiba musim kemarau, keadaan ini membuat mereka paling menderita.

Apalagi katanya, bagi orang-orang yang ekonomi lemah. Maklum, kalau membeli air dari motor tanki yang sering keliling, harganya selangit.

Menghadapi persoalan ini berbagai kalangan di Simeulue, mengharapkan pemerintahaan Darmili yang sejak awal memerintah telah mencanangkan pengadaan sarana dan prasarana air bersih sebagai salah satu program utama dalam visi dan misi mereka sebagaimana yang disampaikan selama dua kali berturut menjelang Pilkada silam agar segera mewujudkannya.

Warga memang menyadari dalam masa pemerintahaan sebelumnya, Darmili dan Almarhum Ibnu Aban GT Ulma telah menampakkan komitmen mengupayakan penyegeraan beragam sarana dan prasarana kebutuhan masyarakat. Termasuk fasilitas air bersih.

Tapi apa lacur sebut sumber, ditengarai rendahnya pengawasan membuat program sarana air bersih di Simeulue tak kunjung rampung hingga kini. "Jangankan mendapat air bersih yang saban waktu mengalir dari bendungan dan pipa yang ditanam di Simeulue dengan uang rakyat itu, mengalir saja juga belum," kata Iwan Setiawan, seorang pemuda di Sinabang, kemarin.

Bahkan dia menyebutkan, pipa yang ditanam beberapa waktu lalu, sebagian hingga kini masih berserakan di pinggiran jalan Kota Sinabang. Selain membuat air tak mengalir juga telah membuat pemandangan semak. Galian-galian yang belum ditutup juga dapat mengancam keselamatan pengguna jalan umum.

Benar, kondisi janggal ini pantauan Waspada dapat dipastikan hingga hari ini (baca: Senin) masih bisa dilihat dengan mata telanjang oleh siapa saja yang melintas di jalan utama dalam kota Sinabang, khususnya di kawasan Desa Suka Karya, juga beberapa gang di Desa Suka Maju.

Kepala Kantor Perusahaan Air Minum (PAM) Sinabang, yang sebentar lagi lembaga ini berubah nama menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Simeulue, Ir. H. Rasmal Khaar, kemarin menyatakan maklum dengan keluhan warga. Atas nama Pemerintah Simeulue, dia menyatakan terus berupaya untuk mempercepat penyiapan sarana air bersih.

Katanya, kini semua sarana untuk itu dalam tahap finishing. Ditargetkan dalama tiga bulan ke depan sudah selesai. Menurutnya, untuk masalah waduk, bendungan air PDAM di hulu sungai Kuala Makmur, masuk finishing diikerjakan oleh sebuah NGO asing—Sabsas. Sedangkan penanaman pipa hingga ke kota ditangani BRR.

Untuk memaksimalkan hasil kerja kedua lembaga ini, Rasmal Khaar selaku anak pulau sekaligus sebagai Kepala Kantor PAM Sinabang mengaku terus memberikan pengawasan dan dia juga mengimbau kepada para kontraktor yang menangani penggalian dan penanaman pipa PDAM untuk segera menyelesaikan tanggungjawab mereka selaku pelaksana proyek.
Rahmad (ags)